Simbolisme Huruf dan Angka (1)

Gambar

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Bagi para sufi, pemaknaan ayat—baik takwini maupun tadwini—tidak hanya pada teks, konteks, semantik, dan hermeneutik, tetapi juga semiotik.

Dalam artikel-artikel terdahulu diungkapkan bahwa betapa para sufi memandang ayat-ayat tersebut bagaikan gunung es, yang hanya menampilkan puncaknya yang tidak seberapa, tetapi yang teramat besar ialah substansi yang berada di bawah laut.

Terlalu naif kita jika hanya mampu memahami puncak gunung es tanpa menyelam ke dasar laut. Huruf-huruf dan angka-angka serta kombinasi di antara huruf-huruf dan angka-angka dimaknai secara komprehensif dan digunakan sebagai alamat (ayat) oleh mereka.

Kalangan sufi sangat yakin bahwa tidak ada ciptaan Allah SWT yang sia-sia tanpa makna dan pesan, sebagaimana dipahami di dalam ayat, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS Ali Imran: 191).

Bagi kalangan sufi, huruf-huruf abjad Arab yang digunakan Allah mengungkapkan firman-Nya bukan abjad biasa, tetapi memiliki kedalaman dan keluasan makna tersendiri. Dengan abjad Arablah Allah mengungkapkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Itulah sebabnya setiap umat Islam selayaknya, bahkan ada yang mengatakan wajib mengenali huruf-huruf hijaiyah yang digunakan di dalam Alquran.

Kekuatan abjad ataupun huruf yang kemudian membentuk kalimat, dihubungkan dengan ayat: “Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)’.” (QS Al-Kahfi: 109).

Huruf-huruf dianggap salah satu cadar yang harus disingkap dengan kekuatan dan kearifan khusus. Selama seseorang masih terpaku hanya pada teks semata, menurut Niffari sebagaimana dikutip Annemarie Schimmel, berarti tidak ubahnya memberhalakan teks. Itu juga berarti pengingkaran terhadap substansi agama dan sudah barang tentu tidak mungkin mencapai puncak yang tidak berhuruf dan berbentuk itu.

Selain para sufi, para penyair Arab pun sangat concern terhadap huruf-huruf. Penyair (Arab) yang tidak mendalami makna abjad dan huruf sulit membuat syair yang lebih mendalam. Sejak pra-Islam sudah gandrung mendalami abjad atau huruf yang mereka hubungkan dengan bagian-bagian tubuh manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s