TAUHID (2)

Kita harus tahu atau mengenal dulu siapa Tuhan kita yang patut disembah . Oleh karena itu untuk mengenal siapa Allah itu, maka kita harus mengetahui- Nya melalui :
1. Zat-Nya
2. Asma-Nya
3. Af’al-Nya
4. Sifat-Nya

Dengan ke- 4 macam yang kita kenal tentang Allah, maka insya Allah kita dapat mendekatkan diri kepada-Nya.

1). Zat Allah, dalam Al -Qur’an zat-Nya “Laisa kamislihi syaeun “, artinya hanya Allah – lah yang tahu, kita manusia tidak bisa membicarakan, membayangkan atau yang lainnya. Yang wajib kita ketahui yaitu melaui asma-Nya, sifat-sifat-Nya dan af’al-Nya.

2). Asma-Nya, asma Allah jumlahnya seratus kurang satu ( Hadist: Bukhori Muslim ). Mengapa dikatakan bahwa asma Allah itu seratus kurang satu, ini mengandung maksud bahwa ada asma Allah yang dirahasiakan. Di dalam asmaul usna asma Allah ada 99, sedangkan asma yang satu dinamakan ismul muadzom. Hanya hamba Allah yang selalu mendekatkan diri dan para mukmin kholis yang mengetahui asma Allah yang satu itu. Kita kalau ingin mengkaji Islam tentunya berupaya untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah semata. Upaya semacam ini maka bermunculan berbagai thorikot atau ajaran Islam yang berusaha menempuh jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, ada thorikot Naksabandiyah, Qodiriyah, Tijaniyah, Samaniyah dan penulis sendiri mengikuti jamaah “Nuruniah ” dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

3). Sifat-sifat-Nya, sifat Allah dikenal dengan sifat wajib ada 20, sifat mustahil ada 20 dan sifat jaiz ada 1, maka sifat Allah dikenal dengan nama sifat 41.

4). Af’al-Nya, artinya perbuatan Allah. Perbuatan Allah di sini maksudnya adalah apa yang dilakukan oleh makhluk pada hakekatnya berasal dari af’al-Nya, tentunya segala sesuatu perbuatan yang bersifat baik

Dengan mengenal keempat macam pengenalan kita kepada Allah, maka kita dapat mengetahui bagaimana kita harus berdoa, bagaimana kita harus sholat, bagaimana kita bersyukur dan hal-hal lain yang tentunya akan membawa kita kepada keselamatan dunia sampai akhirat.

Saya ambil contoh. misal dalam berdoa, di dalam asmaul usna dikatakan ” Walilahil asmaul usna fad’uni biha” , apabila kita berdoa maka kita sebut asma-asma Allah yang ada di asmaul usna. Misal kita ingin berobat maka kita sebut ya sifa, ingin kaya ya ghoni dan sebagainya, ya tentunya doa itu akan makbul apabila kita laksanakan apa yang disebut dengan “wiridan “, artinya diwirid secara istiqomah, maka doa tersbut isnya Allah akan makbul. Jadi bila kita meminta sesuatu jangan kepada yang lain, misal ke kuburan wali, ke embah dukun atau yang lainnya kita harus yakin, bahkan haqul yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita.

Dewasa ini tidak sedikit masyarakat kita yang berbondong-bondong jiarah ke makam para wali, ke para habib dan lain sebagainya. Kalau niatnya mendoakan itu baru benar, tetapi kalau niatnya meminta sesuatu kepada wali yang sudah meninggal, nah ini dikatakan syirik atau menyekutukan Allah. Wali itu diibaratkan menteri atau bahkan presiden, ya tentu tanda tanganya atau memonya berlaku ketika masih menjabat jadi wali, tetapi kalau sudah meninggal tentunya tidak berlaku lagi memonya. Maka dari itu saya sarankan apabila kita meminta sesuatu maka bermohonlah kepada asma-asma-Nya.

Begitu juga dalam beribadah atau lebih khusus sholat. Apa tujuan kita sholat itu ? Untuk berbakti kepada Allah sebagai tanda taat kita atau untuk mencari ganjaran ? Ataukah untuk kedua-duanya. Kalau kita sholat untuk mencari ganjaran berarti sholat kita masih tingkatan TK ( Taman Kanak-Kanak ), yaitu sholat tingkatan anak-anak, mengapa demikian ? Coba kita tilik anak-anak kita, kalau anak-anak kita diperintah membeli sesuatu maka tidak ada lain selalu meminta imbalan ( buruan= kata wong dermayu ). Nah begitu juga dengan sholat kita bila masih meminta ganjaran berarti sholat kita masih belum meningkat. Kita sebagai orang yang berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, marih kita tingkatkan tingkatan sholat kita, yaitu dengan nawaitu mencari ridho Allah. Karena rohnya ibadah itu adalah ikhlas. Maka dikatakan hanya hamba Allah yang Kholis= iklas yang dapat mengetahui ismul muadzom. Karena kalau hamba tersebut termasuk mukmin kholis maka segala permintaannya akan terkabul.

sampai di sini dulu berlanjut pada posting berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s